Tags

, ,


A: "Berapa Pak?".
B: "wolongewu(8000)". (bhs jawa???)
A: "Niki Pak yatrane".
B: "Suwun Mas".

Berikutnya, ketika gw datang lagi ke sana. Gw nanyanya “Tasih wonten Pak? Bungkus setunggal”.
Apa yang istimewa dari percakapan ini? Terdengar seperti dialog-dialog pada umumnya. Istimewanya adalah (setidaknya menurutku), ini terjadi di tempat yang jauh dari tempat asal gw. Ada seseorang yang berbicara dengan gw dalam bahasa ibu. For me, its something.

Pernah juga gw naik bis dari bandara. Kemudian gw berbicara dengan seseorang di telepon dalam bahasa Jawa. Setelah selesai menelpon, bapak-bapak di sebelah gw nanya “Mandap pundi mas?”. Sepontang gw jawab “Mandap Simpang Haru. Njenengan mandap pundi?”. Kemudian gw ngobrol-ngobrol sebentar dengan si bapak sampai beliau turun. Biasanya kalau ketemu dengan seseorang yang lebih tua, skil berbahasa gw muncul dengan sendirinya. Padahal biasanya sehari-hari gw berbicara dengan pilihan kosa kata yang agak kasar :D.

Pas idul adha kemarin, gw pulang ke Jawa. Sebelum pesawat berangkat, sebelah gw berbicara dengan seseorang lewat telepon dalam bahasa jawa. Selesai nelpon, orang tersebut gw sapa “nangdi mas?”(Dia seusiaku, jadi gw pake bahasa yang biasa). Dia jawab “Surabaya”. Kemudian kami ngobrol banyak hal setelah itu. Seingatku, itu pertama kalinya gw ngobrol dengan seseorang sepanjang perjalanan di pesawat. (Padang Surabaya ditempuh dalam total kira-kira 3 jam).

Sebenarnya gw di Padang ini sudah lebih dari 8 bulan. Tetapi gw belum terlalu terbiasa dengan bahasa sini. Makanya gw menyukai apapun yang mengingatkanku pada tempat asliku, termasuk juga panggilan. Gw kadang dipangil mas, kadang abang atau om. Di kantor gw dipanggil pak. Tetapi gw lebih suka kalau dipanggil “kak” atau “cak”, karena gw di rumah juga dipanggil kek gitu. Pas di kantor (Padang), beberapa kali gw ketemu temen-temen dari gresik. Mereka tetep manggil gw “cak”. So.. “cak munir”, terdengar cukup nyaman di telingaku :D.

Advertisements